10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Wisatawan Indonesia Saat Liburan ke Jepang — dan Cara Menghindarinya
Jepang adalah salah satu destinasi favorit wisatawan Indonesia. Tokyo, Osaka, Kyoto, Mount Fuji, hingga Hokkaido menawarkan pengalaman yang sangat berbeda.
Namun, perjalanan ke Jepang juga memiliki karakteristik tersendiri. Sistem transportasinya sangat efisien, banyak aktivitas membutuhkan reservasi, dan jarak antar destinasi kadang terlihat dekat di peta tetapi membutuhkan waktu cukup lama untuk ditempuh.
Bagi first-time traveler ke Jepang, beberapa kesalahan kecil bisa membuat perjalanan menjadi lebih mahal, melelahkan, atau bahkan membuat kita kehilangan kesempatan menikmati destinasi yang sudah direncanakan.
Berikut 10 kesalahan yang paling sering terjadi dan cara menghindarinya.
1. Memilih Hotel Hanya Karena Harganya Murah
Hotel murah belum tentu membuat perjalanan menjadi hemat.
Jika hotel terlalu jauh dari stasiun atau berada di lokasi yang sulit dijangkau, Anda mungkin justru menghabiskan lebih banyak waktu, tenaga, dan biaya transportasi.
Tips Terefi:
Saat memilih hotel di Jepang, jangan hanya melihat harga.
Perhatikan:
- Jarak ke stasiun
- Apakah ada lift
- Akses menuju bandara
- Kemudahan menuju destinasi utama
- Area restoran dan convenience store
- Ukuran kamar jika membawa koper besar
Untuk perjalanan keluarga, hotel yang sedikit lebih mahal tetapi lokasinya strategis sering kali jauh lebih nyaman.
2. Membuat Itinerary Terlalu Padat
Kesalahan klasik:
Tokyo pagi → Mount Fuji siang → Shibuya sore → Shinjuku malam.
Di atas kertas terlihat mungkin.
Dalam kenyataan, Anda harus memperhitungkan perjalanan ke stasiun, menunggu kereta, berjalan kaki, mencari pintu keluar stasiun, antre makan, dan waktu istirahat.
Jepang adalah negara yang sangat nyaman untuk berjalan kaki, tetapi justru karena itu wisatawan sering tidak sadar bahwa mereka sudah berjalan 15.000–20.000 langkah sehari.
Tips:
Lebih baik memilih 3–4 aktivitas utama dalam satu hari daripada mengejar terlalu banyak tempat.
Liburan seharusnya memberikan pengalaman, bukan perlombaan mengumpulkan lokasi untuk difoto.
3. Tidak Memperhitungkan Waktu Perjalanan Antar Kota
Tokyo, Kyoto, dan Osaka memang terlihat berdekatan jika melihat peta Jepang.
Tetapi perjalanan antar kota membutuhkan perencanaan.
Selain durasi kereta, perhitungkan juga:
- Waktu menuju stasiun
- Waktu check-out hotel
- Waktu check-in
- Transfer dari stasiun ke hotel
- Waktu membawa koper
Tips Terefi:
Untuk perpindahan kota, usahakan itinerary tidak terlalu penuh pada hari tersebut.
Jika Anda berpindah dari Tokyo ke Kyoto, misalnya, jangan membuat jadwal atraksi yang membutuhkan kedatangan tepat waktu beberapa menit setelah tiba.
Berikan ruang untuk hal-hal yang tidak terduga.
4. Membeli Tiket Atraksi Terlalu Mendadak
Beberapa atraksi populer di Jepang memiliki sistem reservasi atau tiket dengan kapasitas terbatas.
Contohnya:
- Museum
- Theme park
- Observation deck
- Aktivitas Mount Fuji
- Restoran populer
- Atraksi musiman
Kesalahan yang sering terjadi adalah membuat itinerary terlebih dahulu, kemudian baru mencari tiket.
Akibatnya, tanggal yang diinginkan sudah penuh.
Tips:
Setelah menentukan tanggal perjalanan, buat daftar aktivitas yang harus dipesan terlebih dahulu.
Bedakan antara:
Must Go → harus dipesan.
Nice to Have → bisa fleksibel.
Dengan cara ini itinerary menjadi lebih aman.
5. Membawa Koper Terlalu Besar
Ini adalah salah satu kesalahan yang paling terasa ketika menggunakan transportasi umum Jepang.
Stasiun besar seperti Tokyo, Shinjuku, Osaka, dan Kyoto bisa sangat ramai dan luas.
Membawa koper besar sambil berpindah kereta atau berjalan jauh dari stasiun menuju hotel bisa melelahkan.
Tips Terefi:
Pertimbangkan menggunakan luggage delivery service untuk mengirim koper langsung ke hotel berikutnya.
Untuk perjalanan multi-city, packing dengan konsep:
“Bawa lebih sedikit, beli seperlunya di Jepang.”
Ini juga membuat perjalanan pulang lebih nyaman.
6. Menganggap Semua Makanan Jepang Aman untuk Muslim
Jepang memang semakin ramah terhadap wisatawan Muslim.
Tetapi jangan langsung menganggap makanan yang terlihat sederhana pasti halal.
Beberapa bahan yang perlu diperhatikan antara lain:
- Pork / 豚肉 (buta-niku)
- Lard
- Mirin
- Sake
- Alkohol dalam saus
- Dashi tertentu
Tips:
Jika Anda membutuhkan makanan halal, lakukan sedikit riset sebelum pergi.
Simpan beberapa kata penting dalam bahasa Jepang dan gunakan aplikasi penerjemah ketika perlu.
Untuk traveler Muslim, perencanaan lokasi restoran halal atau tempat makan yang sesuai kebutuhan sebaiknya menjadi bagian dari itinerary, bukan dicari setelah lapar.
7. Tidak Memahami Tax-Free Shopping
Jepang adalah surga belanja bagi banyak wisatawan.
Elektronik, kosmetik, fashion, obat-obatan, oleh-oleh, hingga produk lokal tersedia dalam berbagai pilihan.
Namun, wisatawan sering tidak memahami bagaimana sistem tax-free bekerja dan akhirnya tidak memanfaatkannya dengan optimal.
Tips:
Sebelum belanja dalam jumlah besar, tanyakan:
“Tax-free?”
Perhatikan juga persyaratan dan prosedur yang berlaku saat Anda berbelanja.
Simpan dokumen pembelian dengan baik sampai perjalanan selesai.
8. Tidak Menyiapkan Internet Sejak Awal
Google Maps, aplikasi kereta, penerjemah, reservasi, dan komunikasi semuanya sangat terbantu dengan internet.
Tanpa koneksi internet, perjalanan bisa menjadi jauh lebih sulit.
Pilihan yang umum:
- eSIM
- SIM card Jepang
- Pocket Wi-Fi
Untuk sebagian besar traveler, eSIM bisa menjadi pilihan praktis karena tidak perlu membawa perangkat tambahan.
Tips Terefi:
Sebaiknya koneksi internet sudah aktif sejak tiba di Jepang, bukan baru mencari setelah keluar dari bandara.
9. Tidak Mempelajari Etika Dasar di Jepang
Jepang memiliki budaya yang sangat menghargai ketertiban dan ruang bersama.
Beberapa kebiasaan yang perlu diketahui:
- Jangan berbicara terlalu keras di kereta.
- Antre sesuai aturan.
- Jangan makan sembarangan di tempat yang tidak sesuai.
- Perhatikan aturan membuang sampah.
- Hormati aturan di kuil dan tempat wisata.
- Jangan menghalangi jalan orang lain ketika mengambil foto.
Tidak perlu menjadi ahli budaya Jepang.
Cukup memahami beberapa aturan dasar agar perjalanan lebih nyaman dan kita dapat menghormati masyarakat setempat.
10. Terlalu Fokus Mengejar Foto
Ini mungkin kesalahan yang paling sayang.
Kadang kita pergi jauh-jauh ke Jepang tetapi terlalu sibuk mengejar:
“Sudah dapat foto di sini belum?”
Padahal pengalaman perjalanan bukan hanya foto.
Nikmati suasana jalan kecil Kyoto.
Duduk sebentar di taman Tokyo.
Makan ramen di restoran kecil.
Naik kereta lokal.
Berjalan tanpa terburu-buru.
Melihat Mount Fuji dari kejauhan.
Hal-hal sederhana seperti itulah yang sering justru menjadi kenangan paling kuat.
Bonus Tip: Buat Itinerary dengan “Ruang Bernapas”
Salah satu prinsip yang kami sukai di Terefi adalah:
Jangan isi 100% waktu perjalanan Anda.
Sisakan sekitar 20–30% waktu fleksibel.
Karena selalu ada kemungkinan:
- Kereta terlambat.
- Anda tersesat di stasiun.
- Restoran antre.
- Cuaca berubah.
- Menemukan tempat menarik secara tidak sengaja.
- Ingin berhenti lebih lama di satu tempat.
Itulah yang membuat perjalanan terasa lebih santai.
Kesimpulan
Jepang memiliki sistem transportasi yang sangat baik dan banyak fasilitas untuk wisatawan.
Namun, perjalanan yang nyaman tetap membutuhkan perencanaan

Komentar
Posting Komentar