Jepang Bukan Hanya Sushi dan Ramen
Salah satu pengalaman paling menyenangkan saat liburan ke Jepang adalah mencoba makanan lokal.
Mulai dari sushi, ramen, tempura, udon, soba, yakiniku, donburi, sampai makanan sederhana yang dijual di restoran kecil dekat stasiun.
Tetapi bagi wisatawan Muslim, ada satu hal yang perlu diperhatikan:
Makanan yang terlihat aman belum tentu otomatis halal.
Nasi, ikan, sayuran dan tofu memang merupakan bagian besar dari makanan Jepang. Namun dalam proses memasaknya, beberapa bahan seperti cooking sake, mirin, soy sauce tertentu, mentsuyu, gelatin, atau lemak hewani dapat digunakan.
Jadi, tantangannya bukan hanya:
“Makan di mana?”
Tetapi:
“Bagaimana menemukan makanan yang sesuai dengan kebutuhan kita?”
1. Jangan Hanya Melihat Nama Makanannya
Ini salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi.
Misalnya Anda melihat:
Grilled Salmon 🍣
Secara bahan utama, salmon tentu bukan masalah. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah bumbu dan sausnya.
Begitu juga dengan:
- ramen
- udon
- soba
- yakiniku
- donburi
- sushi
- tempura
Yang perlu ditanyakan bukan hanya jenis makanannya, tetapi juga bahan yang digunakan dalam kuah, saus dan proses memasaknya.
JNTO sendiri mengingatkan bahwa mirin dan cooking sake digunakan dalam banyak bumbu Jepang, termasuk beberapa jenis mentsuyu atau kuah mi.
Travel trick Terefi:
Kalau Anda ragu, jangan langsung memesan.
Cari informasi:
Ingredients → Restaurant information → Muslim-friendly / Halal → Baru pesan.
2. Bedakan “Halal”, “Muslim-Friendly” dan “No Pork”
Ini sangat penting.
Ketiga istilah tersebut tidak selalu berarti hal yang sama.
🟢 Halal Certified
Biasanya terdapat proses sertifikasi atau standar halal tertentu.
Ini menjadi pilihan yang lebih mudah bagi wisatawan yang ingin memiliki kepastian lebih tinggi.
🟡 Muslim-Friendly
Restoran berusaha menyediakan makanan yang sesuai kebutuhan Muslim, tetapi standar dan prosesnya dapat berbeda antara satu restoran dengan restoran lainnya.
JNTO juga mengingatkan bahwa restoran yang menggunakan istilah Muslim-friendly belum tentu mempunyai dapur khusus halal.
🟠 No Pork
Artinya tidak menggunakan daging babi, tetapi belum tentu bebas alkohol atau bahan turunan hewani tertentu.
Jadi jangan berhenti pada pertanyaan:
“No pork?”
Kalau kebutuhan Anda halal, masih perlu menanyakan bahan lainnya.
3. Gunakan Google Maps dengan Kata Kunci yang Tepat
Ini salah satu trik sederhana tetapi sangat membantu.
Daripada hanya mengetik:
“Japanese restaurant Tokyo”
coba gunakan kombinasi:
- Halal restaurant Tokyo
- Muslim friendly Tokyo
- Halal ramen Tokyo
- Halal sushi Tokyo
- Muslim friendly Kyoto
- Halal restaurant Osaka
- Halal restaurant near mosque
Kemudian periksa:
⭐ Rating
📸 Foto makanan
📝 Review terbaru
🕐 Jam buka
💰 Kisaran harga
📍 Jarak dari itinerary Anda
JNTO juga merekomendasikan penggunaan berbagai platform dan panduan khusus Muslim untuk menemukan restoran dan toko Muslim-friendly di Jepang.
Terefi Travel Trick:
Jangan hanya mencari restoran berdasarkan rating.
Cari berdasarkan:
Food + Location + Halal requirement + Opening hours + Itinerary
Ini jauh lebih praktis.
4. Cari Restoran di Sekitar Masjid atau Prayer Room
Ini adalah trik yang sangat berguna untuk perjalanan keluarga atau group Muslim.
Misalnya Anda sedang berada di Tokyo.
Daripada mencari restoran secara acak, Anda bisa menyusun itinerary:
Sightseeing → Restaurant → Prayer → Shopping
Tokyo, Osaka dan Kyoto termasuk kota yang memiliki pilihan Muslim-friendly yang semakin berkembang.
Contohnya, JNTO juga menampilkan kawasan sekitar Tokyo Camii sebagai salah satu titik yang dapat dikombinasikan dengan aktivitas kuliner Muslim-friendly di Tokyo.
Dengan cara ini, Anda tidak perlu:
❌ sightseeing jauh
❌ kembali ke hotel hanya untuk shalat
❌ mencari restoran secara mendadak
Semua bisa disusun menjadi satu alur perjalanan.
5. Jangan Meremehkan Convenience Store Jepang
Konbini bisa menjadi penyelamat ketika Anda lapar malam hari atau sedang berada di daerah yang pilihan restorannya terbatas.
JNTO menyebut convenience store sebagai salah satu fasilitas yang sangat praktis bagi wisatawan dan banyak yang buka 24 jam.
Beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan setelah mengecek label bahan:
🍙 Onigiri
🥗 Salad
🍎 Cut fruit
🥜 Nuts
🫛 Edamame
🍚 Instant rice
Namun tetap perhatikan ingredient label, khususnya kata-kata yang berkaitan dengan mirin dan alcohol. JNTO secara khusus menyarankan wisatawan Muslim mengecek label onigiri sebelum membeli.
Travel trick:
Kalau Anda menemukan satu produk yang cocok, foto kemasannya.
Ini akan sangat membantu ketika Anda ingin membeli produk yang sama di konbini berikutnya.
6. Mau Makan Local Food? Jangan Selalu Cari yang Viral
Ini salah satu prinsip yang kami sukai di Terefi:
Makanan enak tidak selalu viral.
Restoran yang viral di media sosial bisa saja:
- antreannya sangat panjang
- harus booking
- terlalu jauh dari itinerary
- harganya lebih mahal
- tidak sesuai kebutuhan dietary
- kurang nyaman untuk group
Sementara restoran kecil di sekitar stasiun atau area residential bisa menawarkan pengalaman lokal yang jauh lebih santai.
Bukan berarti restoran viral harus dihindari.
Tetapi jangan menjadikan viral sebagai satu-satunya ukuran.
Jangan Lupa: Restoran Juga Harus Masuk ke Itinerary
Ini adalah salah satu trik perjalanan yang sering kami gunakan.
Misalnya itinerary Tokyo:
09.00 Asakusa
↓
12.00 Lunch Muslim-friendly
↓
13.30 Prayer
↓
14.30 Tokyo Skytree
↓
17.00 Shopping
↓
19.30 Dinner
↓
21.00 Hotel
Dengan demikian, waktu makan bukan sesuatu yang dicari setelah lapar.
Tetapi sudah menjadi bagian dari perjalanan.
Untuk group, ini jauh lebih nyaman.
Budget Makan di Jepang: Jangan Hanya Hitung Tiket & Hotel
Saat membuat budget perjalanan, makanan juga harus dimasukkan sejak awal.
Secara sederhana, Anda bisa membagi:
💰 Economical
Konbini + casual restaurant + simple meals
💰💰 Comfortable
Casual restaurant + beberapa specialty food
💰💰💰 Culinary Experience
Halal-certified restaurant, Wagyu, sushi experience atau specialty dining
Yang penting bukan memilih yang paling mahal.
Tetapi menentukan pengalaman makan mana yang memang ingin Anda masukkan ke perjalanan.
Terefi Travel Insight ✈️
Bagi kami, perjalanan yang nyaman bukan berarti setiap hari harus memiliki itinerary yang penuh.
Justru perjalanan yang nyaman adalah ketika kita sudah tahu:
📍 Ke mana pergi
🍜 Di mana makan
🕌 Kapan shalat
🛍️ Kapan shopping
🚆 Bagaimana berpindah tempat
🏨 Kapan waktunya kembali istirahat
Karena itu, saat membuat itinerary Jepang untuk keluarga atau group, food stop sebaiknya direncanakan bersama sightseeing, bukan menjadi urusan terakhir.
Dan untuk wisatawan Muslim, perencanaan ini menjadi semakin penting karena pilihan makanan dan kebutuhan ibadah perlu diperhitungkan sejak awal. JNTO sendiri mencatat bahwa fasilitas Muslim-friendly, restoran dan prayer facilities semakin tersedia, terutama di kota-kota besar.

Komentar
Posting Komentar